Rabu, 04 Mei 2011

merbabu

Gunung merbabu merupakan salh satu gunung berapi yang aktiv di daerah jawa tengah,
berdekatan dengan gunung merapi,sehingga menjadikan dua gunung ini seperti gunung kembar...
pendakian ke puncak merbabu membutuhkan waktu lebih kurang sekitar 8 jam dengan berjalan kaki dari batas akir kendaraan.
tempat sejuk dan pemandangan alam yang masih alami menbuat gunung ini banyak di minati oleh para pecinta alam sebagai area educations,haiking,dan wisata.seperti yang dilakukan oleh para pecinta alam YAMAHA di bawah ini..





Rabu, 13 April 2011

boko temple

Salah satu peninggalan zaman purbakala yang sangat misterius adalah Istana Ratu Boko atau Candi Ratu Boko. Candi yang satu ini terletak di sebuah bukit, sekitar 3 km dari Candi Prambanan, dan 19 km dari kota Yogyakarta Luasnya kurang lebih 16 ha, yang mencakup dua desa di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dawung dan Sambirejo.
Cobalah anda datang pada saat matahari terbit, atau menjelang matahari terbenam, sangat fantastis!! Dari komplek Candi Ratu Boko, anda akan bisa melihat dengan jelas, betapa indahnya bola bulat berwarna keemasan mengambang persis di gapura candi ini, dan perlahan-lahan tenggelam. Begitu juga di pagi hari, ketika matahari akan terbit.
Tata Ruang dan Arsitektur Ratu Boko
Ratu Boko kemungkinan dibangun sekitar abad 9 M oleh Dinasti Syailendra, yang kelak mengambil alih Mataram Hindu. Sebagai sebuah monumen peninggalan zaman dahulu, Ratu Boko masih menyimpan misteri. Atribut-atribut yang terdapat di sini memang mengacu pada sebuah wilayah perkampungan. Tapi tetap saja para ahli masih sulit mengindentifikasikan, apakah ia merupakan taman kerajaan, istana, benteng, atau candi.
Ratu Boko memiliki 3 buah teras/ tingkat, yang masing-masing dipisahkan dengan dinding batu dan benteng. Untuk mencapai teras pertama, kita harus melewati sebuah gerbang besar yang dibangun dalam 2 tahap. Di sebelah barat teras ini terdapat sebuah benteng atau Candi Batu Kapur (Temple of Limestone). Dinamakan Candi Batu Kapur karena ia memang terbuat dari batu kapur. Jaraknya kira-kira 45 m dari gerbang pertama.
Teras kedua dan pertama dipisahkan oleh tembok andelit. Teras kedua ini dapat kita capai setelah melewati gerbang di paduraksa yang terdiri dari 3 pintu. Pintu yang lebih besar (Gerbang Utama) ada di tengah-tengah, diapit oleh dua buah gerbang yang lebih kecil.
Teras kedua dan ketiga di pisahkan oleh benteng batu kapur dan tembok andelit. Untuk masuk ke dalam teras ketiga, kita harus melewati 5 gerbang, dimana gerbang yang paling tengah lebih besar ukurannya bila dibandingkan dengan 4 gerbang lain yang mengapitnya.
Di teras ketiga (teras paling besar) lah terpusat sisa-sisa peninggalan. Di sini kita bisa menemukan antara lain Pendopo (Ruang Pertemuan). Pondasi pendopo ini berukuran panjang 20 m, lebar 20 m, dan tinggi 1,25 m, terletak di sebelah utara dari teras ini.
Sedangkan di sebelah selatan, kita akan menemukan pondasi Pringgitan, berukuran panjang 20 m, lebar 6 m, dan tinggi 1,25 m. Keduanya, pendopo dan pringgitan, dikelingi oleh sebuah pagar dengan panjang 40 m, lebar 36 m, dan tinggi 3 m. Pagar ini dilengkapi dengan 3 gerbang beratap di sebelah utara, selatan, dan di sebelah barat. Tiga buah tangga dibuat untuk mendaki sampai ke pondasi tersebut.
Di sebelah timur pendopo, terdapat Komplek Kolam Pemandian yang dikelilingi oleh pagar empat persegi panjang. Komplek ini terdiri dari 3 kelompok. Kelompok pertama, terdiri dari 3 buah kolam berbentuk persegi empat. Dua di antaranya memanjang dari utara sampai selatan, dan keduanya dipisahkan oleh sebuah gerbang. Sedangkan kelompok kedua terdiri dari 8 kolam bundar yang dibagi dalam 3 baris.
Di teras ini, kita juga bisa melihat sisa-sisa bangunan yang disebut Paseban (Ruang Resepsi) yang membujur dari utara ke selatan. Reruntuhan gerbang, pagar dan landaian juga terdapat di sini. 
Selain itu, juga terdapat Keputren (Istana atau Tempat Tinggal Putri), dimana di dalamnya terdapat sebuah kolam persegi panjang berukuran 31 x 8 m2 yang dikelilingi oleh pagar. Pagar ini mempunyai 2 gerbang, masng-masing terletak di sebelah baratdaya dan timurlaut. Sekitar 60 m dari gerbang ini, kita bisa melihat reruntuhan batu-batuan, tapi kondisi lantainya masih baik. Dasarnya berbentuk bujur sangkar berukuran 20 x 20 m.
Selain tempat-tempat tersebut, masih banyak reruntuhan yang bisa kita temukan di Ratu Boko, misalnya saja reruntuhan Gua Laki-Laki (Male Cave) berukuran panjang 3,5 m, lebar 3 m, dan tinggi 1,5 m, serta sebuah gua yang berukuran lebih kecil lagi, Gua Perempuan (Female Cave).
Ratu Boko telah menghasilkan banyak sekali artefak, termasuk arca-arca, baik arca Hindu (Durga, Ganesha, Garuda, lingga, dan yoni), serta arca Buddha (tiga Dhyani Buddha yang belum selesai). Selain itu, juga ditemukan keramik dan beberapa prasasti.
Salah satu prasasti yang ditemukan adalah prasasti Siwagraha. Prasasti ini menyebutkan peperangan antara Raja Balaputra dan Rakai Pikatan. Karena kalah perang, Balaputra melarikan diri dan membangun tempat pertahanan di atas kaki bukit Ratu Boko.
Di sana juga pernah ditemukan lima fragmen prasasti berhuruf Prenagari dan berbahasa Sansekerta, Walaupun tidak utuh, prasasti ini masih bisa dibaca. Isinya berkaitan dengan pendirian bangunan suci Awalokiteswara, salah satu Buddhisatwa dalam agama Buddha, khususnya aliran Mahayana. Dilihat dari bentuk hurufnya, prasasti-prasasti tersebut berasal dari abad ke-8 M.
Selain itu, juga ditemukan tiga prasasti berhuruf Jawa Kuno dalam bentuk Syair Sansekerta. Dua di antaranya memuat tahun 778 Saka atau 856 M, yang berisi pendirian lingga Kerttiwasa dan lingga Triyambaka atas perintah Raja Kumbhaya. Sedangkan prasasti satunya lagi berisi pendirian lingga atas perintah Raja Kalasodbhawa.
Prasasti lain yang ditemukan di Ratu Boko adalah sebuah prasasti berbahasa Sansekerta-Jawa, dan sebuah inskripsi (tulisan singkat) pada lempengan emas.
Misteri Ratu Boko yang Belum Terungkap

Walaupun begitu banyak dan beragamnya sisa-sisa bangunan ditemukan di sana, sampai sekarang fungsi Ratu Boko masih belum diketahui. Ada yang percaya bahwa bahwa Ratu Boko merupakan biara, atau sebuah tempat beristirahat dan rekreasi.
Prasasti-prasasti yang ditemukan pun agaknya sulit untuk dijadikan sebagai sumber untuk mengetahui fungsi candi yang satu ini. Tulisan-tulisan yang ditemukan di sana hanya menunjukkan bahwa Ratu Boko ada di masa antara abad ke-8-9. Prasasti yang berasal dari abad ke-8 umumnya berisi pendirian bangunan suci Buddha, sedangkan abad ke-9 berisi tentang pendirian bangunan suci Hindu sekali. Tapi karena tidak ada prasasti yang secara eksplisit menyebutkan fungsi dari setiap bangunan yang ada, maka Ratu Boko masih menjadi misteri sampai sekarang. 
Akankah misteri ini terungkap?




Minggu, 03 April 2011

hayo0 ke tawang mangu

Tawangmangu is high point of Mount Lawu of Central Java. There are one waterfall named Grojogan Sewu (thousand waterfall).
Di tawang mangu jg terdapat Vila,Rumah makan,dan wahana bermain lainya.
view tawang manhu sebagai berikut :
grojokan sewu

mahasiswa amikom S1SI-1G TP 2010-2011 makrab di tawang mangu 26-27 feb.2011

hayo0 ke karang kates

Karang kates adalah bendungan yang dibuat sejak jaman penjajahan.Letaknya di desa sumber Pucung,Malang.Bendungan ini di manfaatkan untuk Pembangkit listrik dan perairan ke saah-sawah warga sekitar yang berada di bawah karang kates tersebut.
Sekarang hayo0.kita lihat viewnya....!!!



Jumat, 01 April 2011

carita beach

Pantai carita,merupakan pantai yang adem dan masih sangat asri.Dijamin orang yang mengunjungi panti ini akan merasa senang dan tenang.Terletak di daerah anyer,cukup dekat untuk menjangkau daerah tersebut,sehingga memudahkan pengujung untuk mencapai tempat tersebut.
indonesia memang masih banyak tempat untuk wisata,menjadikan indonesia menjadi tempat faforit bagi para wisatawan asing.go visit indonesia.hayo0 kunjungi indonesia untuk mendapatkan pemandangan yang bisa menyilaukan mata.






Wisata Kepulauan Seribu

 Kepulauan seribu terletak kurang lebih 46km dari jakarta utara.Dikepulauan ini terdapat banyak pulau -pulau kecil yang berjumlah kurang lebih 78 pulau,baik besar maupun kecil.yang ketinggianya tidak lebih dari 3 meter.

Disini terdapat kekayaan bawah laut yang masih terjaga,seperti tumbukarang,ikan,kuda laut,dan masih banyak lagi.




Rabu, 30 Maret 2011

curug gangsa

Salah satu objek wisata di way kanan adalah air terjun,,diantaranya air terjun "curug gangsa" dan air terjun putri malu.walaupun jarak tempuhnya lumayan jauh dari pusat kota,tetapi anda akan merasa puas dan nyaman setelah melihat air terjun ini.karena airnya yang dingin dan pemandangan alam yang menyejukan mata.
Curug gangsa terletak di kasui,way kanan.
curug gangsa
 air terjun putri malu terletak di banjit blambangan umpu way kanan.
air terjun putri malu

pulau kemarau

Adalah pulau yang terapung diatas sungai musi,walaupun air pasang pulau ini tetap kelihatan terapung,tidak pernah banjir dan tersentuh air.sehingga pulau ini dinamakan pulau kemarau.
kuil yang terdapat di pulau kemarau

ini adalah view dari atas pulau kemarau.

Selasa, 29 Maret 2011

BUNAKEN LAUT NAN ELOK






Pantai Lombok

pulau lombok merupakan objek wisata yang masih belum banyak terjamah oleh para touris.Tempatnya yang masih sangat alami membuat orang akan terpesona dengan keindahan alamnya.pesona bawah lautnya yang indah dan masih banyak sekali terdapat satwa-satwa laut yang sudah jarang bisa ditemukan.

ini adalah pesona bahari GILI.

Add caption
Pulau Gili ( Trawnagan, Meno and Air )






 Panorama Pantai Malimbu
































Pasir Putih Pulau GIli










danau toba


Geology

The Toba caldera complex in Northern Sumatra, Indonesia consists of four overlapping volcanic craters that adjoin the Sumatran "volcanic front". The youngest and fourth caldera is the world's largest Quaternary caldera (100 km (62 mi) by 30 km (19 mi)) and intersects the three older calderas. An estimate of 2,800 km3 (670 cu mi) of dense-rock equivalent pyroclastic material, known the Youngest Toba tuff, was blasted from the youngest caldera during one of the largest single explosive volcanic eruptions in geologic history. Following the "Youngest Toba tuff eruption", a typical resurgent dome formed within the new caldera, joining two half-domes separated by a longitudinal graben.[3]
There are at least four cones, four stratovolcanoes and three craters visible in the lake. The Tandukbenua cone on the NW edge of the caldera is relatively lacking in vegetation, suggesting a young age of only several hundred years. Also, the Pusubukit volcano on the south edge of the caldera is solfatarically active.[7]
Panoramic view of the town of Ambarita on Samosir, Lake Toba
Lake Toba Aerial View
Aerial view of the southern shore with Sibandang Island visible in the background.

[edit]The eruption

Location of Lake Toba shown in red on map.
The Toba eruption (the Toba event) occurred at what is now Lake Toba about 67,500 to 75,500 years ago.[8] The Toba eruption was the latest of a series of at least three caldera-forming eruptions which have occurred at the volcano, with earlier calderas having formed around 700,000 and 840,000 years ago.[9] The last eruption had an estimated Volcanic Explosivity Index of 8 (described as "mega-colossal"), making it possibly the largest explosive volcanic eruption within the last twenty-five million years.
Bill Rose and Craig Chesner of Michigan Technological University have deduced that the total amount of erupted material was about 2,800 km3 (670 cu mi)[10] — around 2,000 km3 (480 cu mi) ofignimbrite that flowed over the ground, and around 800 km3 (190 cu mi) that fell as ash, with the wind blowing most of it to the west. The pyroclastic flows of the eruption destroyed an area of 20,000 square kilometres (7,722 sq mi), with ash deposits as thick as 600 metres (1,969 ft) by the main vent.[10]
To give an idea of its magnitude, consider that although the eruption took place in Indonesia, it deposited an ash layer approximately 15 cm (5.9 in) thick over the entireSouth Asia; at one site in central India, the Toba ash layer today is up to 6 m (20 ft) thick[11] and parts ofMalaysia were covered with 9 m (30 ft) of ashfall.[12] In addition it has been variously calculated that 10,000 million metric tons of sulphuric acid[13][citation needed] or 6,000 million tons of sulphur dioxide[14] were ejected into the atmosphere by the event, causing acid rain fallout.
The Toba caldera is the only supervolcano in existence that can be described as Yellowstone's "bigger" sister. With 2,800 km3 (670 cu mi) of ejecta, it was an even greater eruption than the supereruption (2,500 km3) of 2.1 million years ago that created the Island Park Caldera in Idaho, USA. The eruption was also about three times the size of the latest Yellowstone eruption of Lava Creek 630,000 years ago. For further comparison, the largest volcanic eruption in historic times, in 1815 at Mount Tambora (Indonesia), ejected the equivalent of around 100 km3(24 cu mi) of dense rock and made 1816 the "Year Without a Summer" in the whole northern hemisphere, whilst the 1980 eruption of Mount St. Helens in Washington State ejected around 1.2 km3 (0.29 cu mi) of material. The largest known eruption since the Toba event, the Oruanui eruption, ejected the equivalent of 530 km3of magma.
The subsequent collapse formed a caldera that, after filling with water, created Lake Toba. The island in the center of the lake is formed by aresurgent dome.
Landsat photo of Sumatra surrounding Lake Toba
Though the year may never be precisely determined, the season can: only the summer monsooncould have deposited Toba ashfall in the South China Sea, implying that the eruption took place sometime during the northern summer.[15] The eruption lasted perhaps two weeks, but the ensuing "volcanic winter" resulted in a decrease in average global temperatures by 3 to 3.5 degrees Celsius for several years. Greenland ice cores record a pulse of starkly reduced levels of organic carbon sequestration. Very few plants or animals in southeast Asia would have survived, and it is possible that the eruption caused a planet-wide die-off.
There is some evidence, based on mitochondrial DNA, that the human race may have passed through a genetic bottleneck around this time, reducing genetic diversity below what would be expected from the age of the species. According to the Toba catastrophe theory proposed by Stanley H. Ambrose of the University of Illinois at Urbana-Champaign in 1998, human populations may have been reduced to only a few tens of thousands of individuals by the Toba eruption.[16]

[edit]More recent activity

Smaller eruptions have occurred at Toba since. The small cone of Pusukbukit has formed on the southwestern margin of the caldera and lava domes. The most recent eruption may have been at Tandukbenua on the northwestern caldera edge, since the present lack of vegetation could be due to an eruption within the last few hundred years.[17]
Some parts of the caldera have experienced uplift due to partial refilling of the magma chamber, for example pushing Samosir Island and theUluan Peninsula above the surface of the lake. The lake sediments on Samosir Island show that it has been uplifted by at least 450 metres (1,476 ft)[9] since the cataclysmic eruption. Such uplifts are common in very large calderas, apparently due to the upward pressure of unerupted magma. Toba is probably the largest resurgent caldera on Earth. Large earthquakes have occurred in the vicinity of the volcano more recently, notably in 1987 along the southern shore of the lake at a depth of 11 km (6.8 mi).[18] Other earthquakes have occurred in the area in 1892, 1916, and 1920-1922.[9]
Lake Toba lies near the Great Sumatran fault which runs along the centre of Sumatra in the Sumatra Fracture Zone.[9] The volcanoes of Sumatra and Java are part of the Sunda Arc, a result of the northeasterly movement of the Indo-Australian Plate which is sliding under the eastward-moving Eurasian Plate. The subduction zone in this area is very active: the seabed near the west coast of Sumatra has had several major earthquakes since 1995, including the 9.1 2004 Indian Ocean Earthquake and the 8.7 2005 Sumatra earthquake, the epicenters of which were around 300 km (190 mi) from Toba.
On 12 September 2007, a magnitude 8.5 Earthquake shook the ground in Sumatra and was felt in the Indonesian capital, Jakarta. The epicenter for this earthquake was not as close as the previous two earthquakes, but it was in the same vicinity.
On 26 October 2010, a magnitude 7.7 earthquake occurred 36 kilometers (22 miles) southwest of the nearby island of Pagai-selatan. A 10 foot (three-meter) tsunami immediately followed the temblor.

[edit]Eruption Prospect

The 2004 earthquake physically rolled the Sumatran island and altered the shape of the Earth as was detected by the GRACE satellite. Recent highly-localized earthquake activity may initiate magmatic activity of this colossal global climate modifier.
View of the lake with an example of Batak architecture in the foreground.
Traditional Batak house at Ambarita, Lake Toba

[edit]People

Most of the people who live around Lake Toba are ethnicallyBataks. Traditional Batak houses are noted for their distinctive roofs (which curve upwards at each end, as a boat's hull does) and their colorful decor.[19]

[edit]Flora and fauna

The flora of the lake includes various types of phytoplankton, emerged macrophytes, floating macrophytes, and submerged macrophytes, while the surrounding countryside is rainforest including areas of Sumatran tropical pine forests on the higher mountainsides.[20]
Fauna include several variations of zooplankton and benthos animals. Lake Toba offers a nurturing environment for fish such as Tilapia mossambica, Aplocheilus panchax, Lebistes reticulatus, Osphronemus goramy, Trichogaster trichopterus, Channa striata, Channa gachua, Clarias batrachus, Clarias nieuhofii,Clarias sp., Nemacheilus fasciatus, Cyprinus carpio, Puntius javanicus, Puntius binotatus, Osteochilus nasselti, Lissochilus sp., Labeobarbus sora, and Rasbora sp..[20]